Aku masih duduk melamun di bawah pohon, “Mengkhayal” itulah yang sedang aku lakukan saat ini. Itu memang kebiasaanku, saat sedang tidak ada pekerjaan aku selalu menyempatkan diri untuk mengkhayal, bahkan jika ada pekerjaan yang harus ku kerjakan aku masih sempat untuk mengkhayal, tak jarang ibuku sering menegurku karena aku suka melamun sendiri di dalam kamarku.
Di bawah pohon inilah tempat aku melamun, mengkhayal tentang segala hal yang aku inginkan.
“konyol” ya, memang sangat konyol keinginanku ini.
“munstahil” itu memang benar, keinginanku ini memang sangat mustahil untuk terjadi. Tapi memang benar-benar aku sangat ingin keinginan yang sering menjadi judul dalam khayalanku itu terjadi di dalam kehidupan nyata, bahkan jika mungkin itu semua terjadi itu adalah sebuah keajaiban yang sangat besar, yang entah dari mana asalnya, mungkin itu semua dari Tuhan, dan Tuhan telah mengabulkan doa ku, doa untuk menjadikan khayalanku menjadi sebuah kenyataan dalam hidup.
“menjadi orang kaya” bukan, itu bukanlah keinginanku.
“menjadi gadis cantik” itu juga bukan keinginanku, atau “menjadi orang yang sangat pintar” hemm… bukan itu juga tentunya.
“konyol” ya, memang sangat konyol keinginanku ini.
“munstahil” itu memang benar, keinginanku ini memang sangat mustahil untuk terjadi. Tapi memang benar-benar aku sangat ingin keinginan yang sering menjadi judul dalam khayalanku itu terjadi di dalam kehidupan nyata, bahkan jika mungkin itu semua terjadi itu adalah sebuah keajaiban yang sangat besar, yang entah dari mana asalnya, mungkin itu semua dari Tuhan, dan Tuhan telah mengabulkan doa ku, doa untuk menjadikan khayalanku menjadi sebuah kenyataan dalam hidup.
“menjadi orang kaya” bukan, itu bukanlah keinginanku.
“menjadi gadis cantik” itu juga bukan keinginanku, atau “menjadi orang yang sangat pintar” hemm… bukan itu juga tentunya.
Menjadi orang kaya itu sudah aku dapatkan, ayahku memiliki perusahaa terbesar di Inggris, Korea dan juga di dalam Negeri yaitu di daerah Bogor tempat tinggalku dan juga di Jakarta. Sedangkan ibuku adalah seorang Dokter, jadi bisa dikatakan kalu aku ini orang kaya.
Menjadi gadis cantik, kata hampir semua orang yang melihatku, merekan selalu berkata bahwa aku ini cantik dan mempunyai senyum yang manis.
Atau menjadi orang yang sangat pintar, itu juga sudahku dapatkan, walaupun tidak sangat-sangat pintar tapi kepintaran dan kepandaianku ini sudah sukses menjadikanku juara umum di sekolahku.
Jadi sudah bisa dipastikan bahwa aku tidak ingin itu semua, namun keinginan yang selalu jadi judul dalam khayalanku adalah, aku ingin suatu saat bertemu dengan peri-peri cantik yang memiliki sayap dan kekuatan yang hebat dan aku ingin bisa mengunjungi negeri peri-peri cantik itu. Konyol.
Menjadi gadis cantik, kata hampir semua orang yang melihatku, merekan selalu berkata bahwa aku ini cantik dan mempunyai senyum yang manis.
Atau menjadi orang yang sangat pintar, itu juga sudahku dapatkan, walaupun tidak sangat-sangat pintar tapi kepintaran dan kepandaianku ini sudah sukses menjadikanku juara umum di sekolahku.
Jadi sudah bisa dipastikan bahwa aku tidak ingin itu semua, namun keinginan yang selalu jadi judul dalam khayalanku adalah, aku ingin suatu saat bertemu dengan peri-peri cantik yang memiliki sayap dan kekuatan yang hebat dan aku ingin bisa mengunjungi negeri peri-peri cantik itu. Konyol.
Saat ini aku sedang mengkhayal bertemu seorang peri cantik di sebuah hutan dan dia mengajakku untuk ikut ke istana negri peri, istananya di penuhi oleh bunga-bunga yang harum wanginya memencar di setiap penjuru istana, indan bunga-bunga itu memberikan gambaran kedamaian, pohon-pohon yang berjajar di setiap hamparan rumput memberikan kesan kesejukkan. Belum lagi sungai kecil jernih yang mengalir dengan derasnya, dan terlihat di beberapa tempat ada sekumpulan hewan yang memiliki sayap, tapi mungkin bukan beberapa hewan, melainkan semua binatang yang ada di istana negri peri yang megah ini. Indah, bahkan sangat sangat indah.
“Azira…” teriak seseorang yang mengejutkanku sambil menghempaskan tangannya ke punggungku yang sukses membuatku terkejut dan membubarkan khayalanku. Langsung saja aku menoleh ke belakang dan setelah kudapati Neyra yang ada di belakangku dan langsung saja aku menceloteh kesal padanya.
“Neyraaa.. apa-apaan sih kamu, hampir saja jantukku tidak copot gara-gara teriakanmu”
“maaf, lagian kamu ngelamun terus, pasti lagi mengkhayal lagi, iyakan” ucap Neyra sambil tersenyum kecil memandangku.
“kalau iya emang kenapa”
“sampai kapan sih Azira kamu berhenti mengkhayal yang aneh-aneh kaya gitu, lama-lama kamu bisa gila beneran tau gak” tanya Neyra.
“hemm.. sampai aku menemukan sebuah keajaiban” jawabku mantap.
“keajaiban apa?, ya ampun Azira sampai kapan pun keajaiban yang kamu tunggu-tunggu itu tidak akan pernah datang” menghembuskan nafas, pertanda bahwa dia sudah lelah karena selalu menasehatiku agar tidak mengkhayal hal-hal yang tidak akan mungkin terjadi, tapi aku selulu saja cuek dengan nasehat yang selalu dia ucapkan padaku.
“kamu liat aja nanti, keajaiban itu pasti akan datang” tersenyum kepada Neyra.
“terserahlah” gumam Neyra, pasrah.
“Azira…” teriak seseorang yang mengejutkanku sambil menghempaskan tangannya ke punggungku yang sukses membuatku terkejut dan membubarkan khayalanku. Langsung saja aku menoleh ke belakang dan setelah kudapati Neyra yang ada di belakangku dan langsung saja aku menceloteh kesal padanya.
“Neyraaa.. apa-apaan sih kamu, hampir saja jantukku tidak copot gara-gara teriakanmu”
“maaf, lagian kamu ngelamun terus, pasti lagi mengkhayal lagi, iyakan” ucap Neyra sambil tersenyum kecil memandangku.
“kalau iya emang kenapa”
“sampai kapan sih Azira kamu berhenti mengkhayal yang aneh-aneh kaya gitu, lama-lama kamu bisa gila beneran tau gak” tanya Neyra.
“hemm.. sampai aku menemukan sebuah keajaiban” jawabku mantap.
“keajaiban apa?, ya ampun Azira sampai kapan pun keajaiban yang kamu tunggu-tunggu itu tidak akan pernah datang” menghembuskan nafas, pertanda bahwa dia sudah lelah karena selalu menasehatiku agar tidak mengkhayal hal-hal yang tidak akan mungkin terjadi, tapi aku selulu saja cuek dengan nasehat yang selalu dia ucapkan padaku.
“kamu liat aja nanti, keajaiban itu pasti akan datang” tersenyum kepada Neyra.
“terserahlah” gumam Neyra, pasrah.
Lama aku dan Neyra saling terdiam membisu. Aku menatap mentari yang akan segera mengakhiri tungasnya pada hari ini, begitu pula Neyra. Bulan sudah menampakkan dirinya, sedangkan mentari sudah hampir tak tampak lagi. Aku dan Neyra masih saja terdiam membisu, entah apa yang sedang Neyara pikirkan sehingga dia hanya diam sedari tadi, Neyra gadis yang bisa dikatakan cerewet mana mungkin dia tidak mengoceh selama setengah jam ini, beda denganku, aku tidak pernah banyak bicara, itu semua karena aku sering melamun dan berkhayal.
“lagi ngelamunin apa, tumben gak ngoceh gak kaya biasanya” tanyaku pada Neyra dan dia tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku.
“kayanya kamu ketularan aku ya, kamu lagi mengkhayal” lanjutku bertanya, dan kali ini dia menjawab pertanyaanku.
“aku tidak lagi berkhayal”
“lalu” tanyaku, seolah ingin tau, sambil menatap heran ke arah Neyra yang sedang senyum-senyum tidak jelas.
“kamu tau tidak, aku sangat senang karena aku sedang memikirkan kakakku yang akan kembali ke Indonesia, mungkin dia sekarang sedang dalam perjalanan”
“kak Billy maksud kamu?, yang kuliah di Australia itu”
“iya siapa lagi kalau bukan dia, kakak satu-satunya yang sangat aku sayangi”
“oh jadi begitu” ujarku mengerti, dan Neyra menganggukkan kepalanya.
“aku pulang dulu ya” ucap Neyra, berpamitan padaku.
“iya Ney, Bye” sambil melambaikan tanganku pada Neyra yang tengah beranjak dari tempat yang dia duduki. dan Neyra membalas lambaian tanganku.
Tak lama kemudian Neyra sudah berada di depan gerbang rumahnya dan segera masuk ke dalam rumahnya yang bersebelahan dengan rumahku.
“kayanya kamu ketularan aku ya, kamu lagi mengkhayal” lanjutku bertanya, dan kali ini dia menjawab pertanyaanku.
“aku tidak lagi berkhayal”
“lalu” tanyaku, seolah ingin tau, sambil menatap heran ke arah Neyra yang sedang senyum-senyum tidak jelas.
“kamu tau tidak, aku sangat senang karena aku sedang memikirkan kakakku yang akan kembali ke Indonesia, mungkin dia sekarang sedang dalam perjalanan”
“kak Billy maksud kamu?, yang kuliah di Australia itu”
“iya siapa lagi kalau bukan dia, kakak satu-satunya yang sangat aku sayangi”
“oh jadi begitu” ujarku mengerti, dan Neyra menganggukkan kepalanya.
“aku pulang dulu ya” ucap Neyra, berpamitan padaku.
“iya Ney, Bye” sambil melambaikan tanganku pada Neyra yang tengah beranjak dari tempat yang dia duduki. dan Neyra membalas lambaian tanganku.
Tak lama kemudian Neyra sudah berada di depan gerbang rumahnya dan segera masuk ke dalam rumahnya yang bersebelahan dengan rumahku.
Aku dan Neyra adalah sahabat baik sejak kami masih kecil, keluargaku dan keluarga Neyra sudah sangat dekat, bahkan kami sudah seperti satu keluarga yang saling membantu satu sama lain.
Setelah Neyra kembali ke rumahnya, dan hanya aku sendiri disini aku sempat berkhayal tentang aku yang mempunyai kekuatan dan aku menyelamatkan bumi dari semua kejahatan tapi khayalanku itu tidak berlangsung lama karena hari sudah semakin malam, dan sejenak kupandangi jam tangan merah yang melekat kencang di pergelangan tangan kiriku dan kupandangi jarum jam pendek sudah menunjukkan pukul 19.45 aku segera beranjak dari tempat duduk di bawah pohon ini dan melangkahkan kakiku menuju ke rumahku.
“mungkin mereka tidak akan datang malam ini, tapi aku akan tetap menunggu para peri itu datang padaku, aku akan bersabar” batinku.
“mungkin mereka tidak akan datang malam ini, tapi aku akan tetap menunggu para peri itu datang padaku, aku akan bersabar” batinku.
Hampir setiap hari aku duduk di bangku di bawah pohon yang berada di taman kecil namun sangat indah yang letaknya berada tepat di depan rumahku dan rumah Neyra. Selain tempatnya enak untuk dijadikan tempat aku mengkhayal aku juga masih punya alasan lain, yaitu menunggu para peri datang mengajak aku ke Negrinya. Mungkin kata semua orang itu hal yang bodoh, hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, tapi bagiku itu adalah hal yang mungkin saja bisa terjadi dalam kehidupan nyata, walaupun aku tidak begitu yakin, tapi aku berharap semua itu akan terjadi.
Saat ini aku sudah berada di dalam rumahku, aku lihat rumahku sedang sepi, hanya ada beberapa pembantuku saja, aku tidak melihat Ibu, Ayah dan Kevin adikku.
Aku melanjutkan langkahku menuju kamar tidurku untuk segera tidur dan bermimpi tentang para peri dan istananya.
“Non Azira” teriak Bi Reni yang membuat langkahku terhenti, lalu kubalikan badan kearah Bi Reni “Ada apa bi” tanyaku pada Bi Reni.
“Non Azira, kenapa tidak makan dulu non, non Azira kan belum makan malam, saya takut non Azira sakit, ayo non makan dulu” Oceh Bi Reni.
“Aku lupa Bi, ya sudah aku mau makan dulu, oh iya Bi, Ibu, Ayah, sama Kevin kemana ya Bi”
“tadi nyonya sama tuan nelpon, katanya masih ada kerjaan, kalau den Kevin dia ada di kamarnya”
“oh gitu”
“iya non, ya sudah Bibi mau kedapur dulu ya non, Bibi mau bantu Bi Minah di dapur, permisi non” ucap Bi Reni, lalu pergi meninggalkanku yang saat ini sedang asik menyantap makananku.
“Non Azira” teriak Bi Reni yang membuat langkahku terhenti, lalu kubalikan badan kearah Bi Reni “Ada apa bi” tanyaku pada Bi Reni.
“Non Azira, kenapa tidak makan dulu non, non Azira kan belum makan malam, saya takut non Azira sakit, ayo non makan dulu” Oceh Bi Reni.
“Aku lupa Bi, ya sudah aku mau makan dulu, oh iya Bi, Ibu, Ayah, sama Kevin kemana ya Bi”
“tadi nyonya sama tuan nelpon, katanya masih ada kerjaan, kalau den Kevin dia ada di kamarnya”
“oh gitu”
“iya non, ya sudah Bibi mau kedapur dulu ya non, Bibi mau bantu Bi Minah di dapur, permisi non” ucap Bi Reni, lalu pergi meninggalkanku yang saat ini sedang asik menyantap makananku.
Aku sudah selesai menghabiskan makanku dan aku segera melangkah menuju kamarku yang berada tepat di lantai atas. Setelah sampai di depan kamarku, aku segera membuka pintu kamar dan masuk ke kamar mandi yang berada tepat di dalam kamarku dan langsung saja aku menggosok gigi, mencuci kaki,tangan dan muka , lalu keluar dari kamar mandi dan segera mengganti pakaianku dengan baju tidur setelah selesai aku langsung menghempaskan tubuhku ke tempat tidur yang empuk dan nyaman, kutarik selimut dan ku dekap boneka yang mirip dengan tinkerbell yang cukup besar dalam dekapanku. Dan karena jam sudah menunjukkan 20.15 aku segera tertidur, pulas.
Bersambung…
No comments:
Post a Comment